Showing posts with label Kisah Nabi dan Rasul. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nabi dan Rasul. Show all posts

Monday, July 11

misteraans

Kisah Nabi ishak AS dan Ribka

image: jendelabook.com
ISHAK DAN RIBKA
QS. Al-Anbiyaa: 72-73

Sementara itu, Siti Sarah yang tinggal di Palestina bahagia dengan kehadiran anak laki-lakinya. Bayi laki-laki itu diberi nama Ishak yang berasal dari bahasa Ibrani yang artinya "tertawa." Siti Sarah mengasuh Ishak menjadi seorang anak yang saleh. Ishak pun tumbuh menjadi pemuda yang perkasa lagi pintar.
Siti Sarah yang usianya sudah sangat lanjut akhirnya dipanggil oleh Allah. Beliau meninggal dunia dengan bahagia. Sepeninggal Siti Sarah, Nabi Ibrahimpun berniat mencarikan istri untuk Ishak. Beliau mengirim seorang pelayannya yang paling tua untuk mencarikan Ishak seorang istri. Calon istri Ishak itu harus dari bangsanya sendiri, bukan dari bangsa lain.
Si pelayan tadi mengambil sepuluh ekor unta tuannya. Lalu, dia pergi ke Fadama A'raam, kampung halaman Nabi Ibrahim. Banyak sekali barang berharga yang dibawanya. Pelayan itu, bersama pelayan lain yang menyertainya, berhenti di dekat sebuah mata air. Saat itu, hari sudah sore. Tak berapa lama datanglah beberapa perempuan yang mengambil air di sumur.
Sewaktu mereka sedang mengistirahatkan unta-unta mereka, berdoalah pelayan yang tertua kepada Allah, "Ya Allah, bantulah kami agar tujuan kami berhasil. Tunjukkanlah cinta-Mu kepada tuan karni, Ibrahim. Kalau aku berkata
kepada seorang gadis, miringkanlah kendimu supaya aku bisa minum, lalu gadis itu menjawab, `minumlah dan aku akan mengarnbilkan air untuk unta-untamu juga', kiranya dialah yang Engkau pilih."
Ketika pelayan itu sedang berdoa, seorang gadis cantik bernama Ribka datang menuju sumur. Gadis itu memanggul kendi di bahunya yang kosong. Lalu, larilah pelayan itu menyambut gadis itu, "Berilah aku sedikit air untuk minum."

"Minumlah, Tuan," sahut Ribka sambil menurunkan kendi yang ada di pundaknya. Ketika pelayan itu selesai minum, berkatalah Ribka kepadanya, "Sekarang, izinkan aku mengambilkan air untuk unta-unta Tuan." Gadis itu pun berlari ke sumur.
Pelayan itu memperhatikan gerak-gerik Ribka. Setelah Ribka selesai memberi minum unta¬unta, pelayan tua itu segera mengeluarkan sebuah cincin emas dan dua buah gelang. Lalu dia memasangkan perhiasan itu di tangan Ribka. Ribka tampak keheranan dengan kelakuan si pelayan. "Siapa ayah dan ibumu, apakah di rumahmu tersedia tempat menginap?" tanya si pelayan. "Tuan, aku ini anak Milka dan Nahor," jawab Ribka
"Nahor?"
si pelayan itu menyebutkan nama kerabat Nabi Ibrahim itu dengan kaget.
"Kami adalah para pelayan Nabi Ibrahim," ucap si pelayan. Ribka memang pernah mendengar tentaxtg Nabi Ibrahim, paman ayahnya. Karena itu, Ribka kembali ke rumahnya dan menceritakan kejadian
yang barn saja dialaminya. Laban, saudara lelaki Ribka, melihat cincin dan gelang yang dipakai Ribka. Begitu mendengar semua cerita Ribka, Laban segera berlari menuju sumur untuk menjemput si pelayan utusan Nabi Ibrahim.
Ketika mereka tiba di rumah Ribka, makanan sudah tersedia di hadapan mereka. Si pelayan tadi kemudian menceritakan kepada seluruh keluarga Ribka tentang maksud kedatangan mereka. Setelah selesai bercerita, orangtua Ribka saling mengangguk. Lalu, keduanya berkata, "Semua ini telah diatur oleh Allah. Kami tidak berhak menjawab ya atau tidak. Allah sendirilah yang telah memilih Ribka."

Ribka maju ke depan, wajahnya memancarkan kebahagiaan. Tatapannya sangat tenang, walaupun hatinya berdebar-debar. "Bawalah Ribka, putri kami," kata ayah Ribka."Jadikan dia istri Ishak."
Si pelayan mengucap syukur kepada Allah. Kemudian, dia beserta pelayan-pelayan yang lain keluar untuk mengambil barang bawaan mereka. Hadiah-hadiah yang mereka bawa lalu diserahkan kepada keluarga Ribka. Lalu, mereka semua berpesta.
Pesta itu berakhir setelah lewat tengah malam. Keesokan harinya, kedua orang tua Ribka bertanya kepada Ribka, "Apakah engkau setuju untuk segera pergi bersama utusan Nabi Ibrahim?" "Aku setuju," ucap Ribka dengan penuh keyakinan.
Mereka melepas Ribka dengan doa restu. Iring-iringan pun segera berangkat. Perjalanan mereka panjang dan melelahkan, namun hati mereka semua bahagia. Ketika rombongan sampai di sebuah gurun, tampak Ishak sedang berjalan-jalan menyusuri padang pasir. Ribka melihat Ishak dan bertanya kepada pelayan yang ada di dekatnya, "Siapakah pemuda yang berjalan di padang menuju ke sini?"
"Dialah Ishak, putra tuanku," jawab si pelayan.
Hati Ribka berdebar-debar saat mengetahui bahwa pemuda itu adalah calon suaminya. Ribka segera memanggil pelayan-pelayan wanita untuk mengelilinginya. Dia mengambil cadar dan menutupi wajahnya Ishak pun tiba di dekat rombongan. Pelayan tua itu segera menceritakan keberhasilan mereka. Ishak lalu membawa rombongan ke tempat ayahnya. Di sana, dia menikahi Ribka. Mereka pun hidup bahagia sebagai pasangan suami isteri.

SAUDARA KEMBAR

Tahun berganti tahun, Nabi Ishak dan Ribka belum juga dikaruniai anak. Nabi Ishak pun berdoa kepada Allah meminta agar dikaruniai keturunan, dan doanya pun dikabulkan. Ribka mengandung anak kembar. Kedua bayi itu lahir dengan selamat. Yang pertama lahir bernama Ishu dan yang kedua bernama Yakub.
Nabi Ishak dan Ribka mendidik kedua anak mereka dengan baik. Namun, ternyata Ishu tumbuh dengan perangai yang kurang baik. Ishu menaruh dendam dan ifi hati pada Yakub karena is merasa Yakub lebih disayangi oleh ibunya. Pada suatu hari, Nabi Ishak berencana memanggil anaknya untuk didoakan. Ibunya yang mengetahui rencana tersebut segera memanggil Yakub. Ibunya tidak memberitahu Ishu, sehingga hanya Yakub yang tahu tentang hal itu.
Pada hari yang ditentukan, Yakub datang menghadap ayahnya, sedangkan Ishu sedang pergi berburu. Nabi Ishak segera membacakan doa untuk Yakub, "Semoga Allah memberikan embun dari langit dan kekayaan dari bumi. Hendaklah semua orang tunduk kepadamu agar engkau menjadi than atas mereka dan atas saudaramu."
Yakub tersenyurn setelah ayahnya mendoakannya. Dia segera mendatangi ibunya untuk memberitahu kabar gembira tersebut. Ishu yam baru pulang berburu, marah karena dirinya tidak diberitahu tentang doa yang dipanjatkan ayahnya. Perasaan iri hati dan dendam semakin memenuhi hatinya.
Ishu selalu bersikap sinis kepada Yakub. Kata-katanya penuh sindiran dan ancaman. Karena hal itu, Yakub mendatangi ayahnya dan mengeluh, "Wahai Ayahku, bagaimana aku menghadapi saudaraku yang membenciku. Ia dendam dan dengki kepadaku. Ia marah karena Ayah hanya memanjatkan doa untukku. Ia menyombongkan diri dengan kedua istrinya dari suku Kan'aan dan mengancam bahwa anak¬anaknya dan kedua istrinya itu akan menjadi saingan berat bagi anak-anakku. Tolonglah Ayah, berikan pendapatmu dalam menyelesaikan masalah ini."

Nabi Ishak merasa prihatin atas masalah yang terjadi di antara kedua anaknya. Beliau pun berkata, "Wahai anakku, karena usiaku sudah tua, aku tidak dapat menengahi kalian berdua. Aku khawatir bila aku meninggal nanti, gangguan Ishu kepadamu akan semakin menjadi-jadi. Dia akan mendapat dukungan dan pertolongan dari saudara-saudara iparnya yang berpengaruh dan berwibawa di negeri ini.
 
Maka, jalan yang terbaik bagimu adalah hijrah ke Fadam Ar`aam di daerah Irak. Di sana, tinggal saudara ibumu, yaitu Laban bin Batuil. Engkau dapat meminta untuk dikawinkan dengan salah satu putrinya, sehingga kedudukan sosialmu akan terangkat karena Laban adalah orang yang terpandang."
"Baiklah Ayah, aku akan mengikuti nasihatmu." "Pergilah engkau ke sana dengan iringan doaku, semoga Allah memberkahi perjalananmu." Yakub menyambut baik nasihat ayahnya. Nasihat itu merupakan jalan keluar terbaik untuk menghindarkan dirinya dari perselisihan dengan Ishu. Dia segera mengemas barang-barangnya dan segera berpamitan kepada ayah serta ibunya. Walaupun dengan berat hati, dia hams meninggalkan kedua orangtua yang sangat dicintainya.
Read More
misteraans

Kisah Nabi Luth AS dan kaum sodom

PERKAWINAN SESAMA JENIS
QS. Al-Ankabut: 28-30

Nabi Luth merupakan anak saudara laki¬laki Nabi Ibrahim. Nabi Luth hijrah bersama Nabi Ibrahim dari Negeri Babil ke Negeri Syam. Nabi Luth diutus oleh Allah untuk berdakwah ke negeri tempat kaum Sodom dan Amurah yang gemar melakukan kerusakan.
Kaum ini lebih suka melakukan perkawinan sesama jenis. Laki-laki menikahi laki-laki.

Sudah berulang kali Nabi Luth menasihati kaumnya agar meninggalkan perbuatan mereka yang tercela itu. Nabi Luth berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya kalian telah melakukan perbuatan yang sangat keji yang belum pernah
dilakukan sebelumnya oleh seorang pun di alam semesta ini."
Namun, mereko malah menertawakan dan mengejek Nabi Luth.
"Hai Luth, tidak usah engkau urus masalah kami. Lebih baik engkau urus saja keluargamu."
"Jika kalian terus menerus melakukan perbuatan keji ini, niscaya Allah akan memberi
peringatan pada kalian.
"Coba saja datangkan siksa jika kamu benar,"
ucap kaumnya dengan nada menantang.
Nabi Luth hanya berserah diri kepada Allah. Beliau sangat ingin agar kaumnya sadar, namun
beliau merasa tidak berdaya untuk mengubah kekerasan hati mereka. Akhirnya Nabi Luth pun berdoa, "Ya
Allah, tolonglah aku
menghadapi kaum yang berbuat bencana ini."   

DUA ORANG TAMU
QS. Al-Ankabut: 33-35

Allah mengabulkan doa Nabi Luth. Sebelum Allah memberi peringatan kepada kaum Nabi Luth yang sesat, Allah mengutus dua malaikat ke rumah Nabi Luth. Dua malaikat itu merupakan utusan Allah yang hendak memberitahu Nabi Luth bahwa hukuman Allah akan datang menimpa negeri tersebut.
Dua malaikat itu menjelma menjadi dua orang laki-laki yang berwajah tampan. Nabi Luth merasa gelisah dengan kedatangan mereka karena dia khawatir bahwa kaumnya akan tertarik pada kedua tamunya itu."
Yang dikhawatirkan Nabi Luth ternyata benar-benar terjadi. Kaumnya segera tertarik melihat kedua orang tamu itu. Mereka mengintai keduanya dan meminta supaya Nabi Luth bersedia menyerahkan dua orang tamu tersebut.
Nabi Luth pun betseru kepada mereka, "Hai kaumku, lihatlah anak perempuanku yang boleh kalian nikahi. Sesungguhnya anak perempuanku lebih suci bagimu. Takutlah kalian kepada Allah dan janganlah berbuat kerusakan kepada tamuku. Apakah di antara kalian tidak ada yang berpikir
jernih?"
Kaurnnya menjawab, "Sesungguhnya engkau telah tahu bahwa kami tidak memerlukan anak perempuanmu dan engkau tahu bahwa yang kami kehendaki adalah laki-laki, bukan perempuan."
"Bila aku memiliki kekuatan, tentunya kalian sudah aku usir," ucap Nabi Luth sedih.
Kaumnya mengejek Nabi Luth yang kebingungan. Nabi Luth segera menutup pintu rumahnya agar kaumnya tidak dapat masuk ke dalam rumahnya. Dua malaikat yang melihat kegelisahan di wajah Nabi Luth segera menenangkannya.

DATANGNYA HUKUMAN
QS. Al-A'raaf: 80-84

Salah satu malaikat berkata, "Mereka sama sekali tidak dapat berbuat jahat kepadamu. Nanti malam, pergilah kamu dari rumahmu tanpa melihat ke belakang.
Kamu akan selamat, kecuali jika istrimu berkhianat. Dia jugalah yang memberitahu kaummu tentang kedatangan kami. Peringatan dari Allah akan datang pada pagi hari."
Mendengar ucapan malaikat itu, Nabi Luth lega bercampur sedih karena mengetahui istrinya akan terkena bencana. Namun, itu sudah menjadi ketio-ituan yang harus isterima dengan sabar.
Pada saat tengah malam, Nabi Luth pun meninggalkan rumahnya tanpa sekalipun menengok ke belakang.
Pagi harinya, saat kaum Nabi Luth masih tertidur nyenyak, hukuman Allah pun datang. Tiba-tiba Allah mengguncangkan bumi. Dataran tinggi dan bukit¬bukit runtuh. Batu-batu berjatuhan menimpa rumah-rumah.
Kaum Nabi Luth terbangun dan menjerit-jerit ketakutan. Mereka yang keluar dari rumah tertimpa batu¬batu besar. Rumah¬rumah pun hancur. Dalam sekejap, kaum Nabi Luth yang membangkang mengalami kemusnahan.
Read More
misteraans

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

BAYI DALAM GUA
QS. Al-An'aam: 74-79

Terdengar suara tangis seorang bayi laki-laki. Suara tangisnya begitu kencang sehingga apat membuat siapa saja yang mendengarnya iba. Namun, tidak ada seorang pun yang mendengar suara tangis bayi tersebut, karena ia berada di dalam sebuah gua yang terletak di dalam hutan. Bayi tersebut begitu kesepian di gua yang gelap itu.
Tiba-tiba, tangisan bayi itu terhenti. Rupanya ia kelelahan karena terlalu lama menangis. Kemudian, bayi itu tertidur pulas sambil mengisap jari-jarinya. Setelah hari itu, tidak terdengar lagi suara tangisnya. Yang ada hanya suara tawa bahagia. Bayi itulah yang bernama Ibrahim.
Ibrahim berada di dalam gua karena orangtuanya terpaksa membuang dirinya. Mereka tidak ingin bayinya itu dibunuh oleh tentara Raja Namruz. Raja Namruz mengeluarkan peraturan bahwa di negaranya tidak boleh ada keluarga yang merawat bayi laki-laki. Apabila lahir seorang bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh. Raja Namruz menitahkan demikian karena dia merasa cemas bahwa suatu hari nanti akan ada seorang laki-laki dari bangsanya yang akan menghancurkan tahta kerajaannya.
Orangtua Ibrahim tidak mau melihat bayinya dibunuh. Oleh karena itu, keduanya terpaksa membuang Ibrahim ke dalam gua.
Semenjak itu, ibunda Ibrahim selalu memikirkan bayi laki-lakinya. Azar, suaminya, selalu berusaha menghibur istrinya."Kenapa wajahmu selalu murung?" tanya Azar begitu melihat istrinya merenung di dalam rumah. "Aku teringat anak kita, Ibrahim." "Jangan engkau cemaskan anak kita. Lebih baik nasibnya seperti itu daripada kita melihatnya dibunuh oleh tentara Raja Namruz." "Bagaimana kalau kita kembali ke dalam hutan untuk melihat keadaannya, Pak?" tanya ibunda Ibrahim."Percuma saja, kemungkinan besar bayi kita sudah meninggal. Jangan
membuat dirimu semakin menderita, istriKu." "Tapi... aku merasa bayi kita masih hidup, Pak!"
"Rasanya tidak mungkin Bu. Barangkali bayi kita sudah meninggal karena kelaparan atau dimakan binatang buas."

Mendengar perkataan suaminya, ibunda Ibrahim menangis tersedu-sedu. Ia membayangkan hal-hal buruk yang bisa terjadi pada bayinya. Namun, nalurinya mengatakan bahwa Ibrahim masih hidup.
"Kita hams kembali ke dalam hutan," ucapnya kemudian. Matanya membulat menunjukkan tekad yang kuat. Akhirnya, Azar mengikuti keinginan istrinya karena is tidak tega melihat istrinya bersedih terus-menerus. Keesokan harinya, mereka berangkat pagi-pagi sekali menuju hutan.
"Itu guanya," tunjuk ibunda Ibrahim. Mereka berdua segera menuju ke arah gua. Keadaan gua itu tampak sangat tenang. Matahari pagi bersinar menerobos pintu gua. Ibunda Ibrahim segera bergegas masuk ke dalamnya. Apa yang dilihatnya di dalam gua benar-benar menakjubkan! Bayinya sedang tertawa-tawa seperti sedang bercanda dengan seseorang.
"Bayikuuu...." jeritriya bahagia. Azar segera
mengikuti sang istri. Dia pun tertegun melihat istrinya menggendong Ibrahim.
"Lihat ...Ibrahim masih hidup."
"Aneh    aku sungguh tidak percaya."
"Ini suatu keajaiban. Rupanya ada yang menjaga Ibrahim."
"Ya    tapi kita tidak dapat
membawa Ibrahim pulang," ucap Azar sambil mengelus kepala anaknya.
"Kalau begitu, aku yang akan ke sini setiap hari," ucap istrinya.
"Tapi    bagaimana
kalau prang lain curiga?"
"Aku akan berpura-pura mencari kayu bakar di hutan," ucap istrinya penuh
keyakinan.

"Baiklah ...," sahut Azar kemudian.Sejak itu, setiap hari mereka menengok Ibrahim di dalam gua. Mereka datang pagi-pagi dan Baru pulang di sore hari. Mereka tetap merasa takjub menyadari Ibrahim dapat tinggal sendirian di dalam gua. Mereka merahasiakan hal itu karena tidak berani membawa Ibrahim pulang ke kampung halamannya sebelum peraturan Raja Namruz dihapuskan.
Ibrahim pun tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Sewaktu dia mulai besar dan sudah mengerti sesuatu, dia bertanya kepada orangtuanya, "Wahai Ibu, Bapak, siapakah yang menjadikan aku?"
Orangtuanya menjawab, "Yang menjadikan engkau adalah kami, karena engkau lahir ke dunia ini disebabkan oleh kami."
"Lalu, siapa yang menjadikan Ayah dan Bunda?" tanya Ibrahim ragu.
"Tentu saja kakek dan nenekmu, karena kami lahir disebabkan oleh mereka," jawab ayahnya.
"Lalu, siapakah yang pertama-tama menjadikan kita semua?" tanyanya lagi. Orangtuanya tidak dapat menjawabnya karena mereka tidak mengenal Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta.
Ibrahim selalu bertanya-tanya siapakah yang menciptakan alam semesta ini. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat menunjukkan dan mengajarkan kebenaran kepadanya.
Pada malam hari, Ibrahim sering melihat bintang-bintang, lalu dia berkata, "Inikah Tuhanku?" Kemudian, dia melihat bintang-bintang itu menghilang di balik awan hitam. Lalu, dia berkata lagi, "Aku tidak akan menyembah kepada sesuatu yang tidak kekal."
Sesudah itu, dia melihat bulan purnama yang bersinar cemerlang. "Inikah Tuhanku?" Namun, beberapa saat kemudian, bulan purnama itu lenyap. "Kalau Tuhanku tidak selalu dapat memberiku petunjuk, tentu aku akan tersesat."
Pada waktu siang, Ibrahim melihat matahari yang lebih besar dan lebih bercahaya dibanding semua yang pernah dia lihat sebelumnya. "Oh, mungkin inilah Tuhanku yang sebenarnya karena is paling besar." Tetapi kemudian, matahari itu terbenam. Ibrahim pun berkata, "Aku tidak akan bertuhan kepada matahari yang dapat terbenam."
"Aku hanya akan menyembah kepada sesuatu yang menjadikan langit dan bumi dengan sebenarnya. Dan aku tidak akan pernah menduakan-Nya."

MENGHANCURKAN BERHALA
QS. Maryam: 41-50, Al-Anbiyaa': 51-71

Setelah beranjak dewasa, orangtua Ibrahim membawa Ibrahim pulang ke kampung halamannya. Di kampung halamannya Ibrahim melihat banyak patung yang disembah oleh kaumnya. Ayahnya sendiri adalah seorang pembuat patung berhala. Ayahnya sangat bangga dengan pekerjaannya.
Setiap hari, dia melihat ayahnya membuat patung berhala. Lalu, patung-patung itu disembah oleh kaumnya sendiri. Ibrahim yang telah diberi petunjuk oleh Allah, tidak tinggal diam melihat kelakuan kaumnya itu.
Ketika ayahnya dan teman-temannya sedang membuat patung, Ibrahim menghampiri mereka.
"Hai Ibrahim, bantulah ayahmu membuatpatung ini ," ucap salah seorang Leman ayahnya.
"Sebelum membantu, aku ingin bertanya sesuatu keada kalian,",, ujar Ibrahim.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya ayahnya.
"Apakah patung-patung ini akan kalian sembah?" Ibrahim balik bertanya.
"Tentu saja, sudah sejak zaman nenek moyang kita patung-patung ini menjadi sesembahan."
"Kenapa kalian menyembah sesuatu yang dapat kalian buat. Sungguh, kalian berada dalam kesesatan. Patung itu tidak dapat mendengar, melihat, atau menolong kalian...."
Mereka berseru dengan marah, "Apa yang kamu katakan, Ibrahim? Kamu jangan mempermainkan kami!"
"Tahukah kalian siapa yang seharusnya kalian sembah? Dialah Allah yang telah menciptakan alam semesta ini, mengatur langit dan bumi. Aku siap menjadi saksi atas kebenaran tersebut."

Mendengar perkataan Ibrahim, mereka sangat marah. Beruntung Azar berhasil meredakan kemarahan mereka. Azar segera menyuruh Ibrahim pulang. Di rumah, Ibrahim melihat Ibunya melakukan sesuatu. "Apa yang sedang Ibu kerjakan?" tanyanya penasaran.
"Malam ini, kita akan melakukan persembahan kepada berhala," jawab ibunda Ibrahim. Ibrahim pun tersenyum. Dia mendapat akal untuk menyadarkan kesalahan kaumnya.
Pada saat semua orang sedang sibuk mempersiapkan persembahan, Ibrahim menyelinap masuk ke dalam tempat penyimpanan berhala-berhala tersebut. Ibrahim membawa kapak milik ayahnya. Dia segera menghancurkan berhala-berhala yang ada di tempat tersebut. Namun, dibiarkannya salah satu patung yang paling besar. Ibrahim kemudian menggantungkan kapak tersebut di bahu si patung. Setelah itu, Ibrahim langsung pulang ke rumahnya. Begitu kaumnya selesai menyiapkan sesembahan, mereka kaget melihat patung-patung yang sudah hancur. "Siapa yang berbuat seperti ini kepada Tuhan kita? Dia sudah berbuat aniaya!"
Kemudian, di antara mereka ada yang berkata, "Kami dengar ada seorang anak yang menghina dan mencela Tuhan kita, namanya Ibrahim."
"Bawalah dia kemari agar kita mendengar pengakuannya," sahut yang lain dengan nada marah.
Ibrahim dibawa ke hadapan mereka. Kemudian, mereka bertanya, "Apakah engkau yang telah melakukan semua ini terhadap Tuhan kami?" Ibrahim pun menjawab, "Bukan aku yang melakukannya, melainkan patung besar itu.
Coba saja tanyakan kepadanya." Mendengar perkataan Ibrahim, mereka menjadi bingung. Lalu, mereka berkata, "Bagaimanakita bisa bertanya kepadanya bila is tidak bisa menjawab kami?" Kemudian Ibrahim menjawab, "Apakah kalian pantas menyembah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepada kalian?"
Walaupun perkataan Ibrahim benar, namun mereka tidak mau mendengarkan. Mereka meminta raja untuk menghukum mati Ibrahim.

NABI IBRAHIM DIBAKAR
QS. Al-Anbiyaa: 68-69

Akhirnya, mereka memutuskan agar Nabi Ibrahim dibakar dalam api. Mereka mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Setelah kayu-kayu itu terkumpul,mereka segera menyalakan api d i atasnya. Namun, mereka kebingungan mencari cara memasukkan Nabi Ibrahim ke dalam api yang membara. Mereka tidak dapat begitu saja memasukkan beliau ke dalam api yang sangat panas karena bisa-bisa mereka ikut terbakar.
Kemudian, setan yang selalu menjadi pengganggu dan musuh manusia, memberi ide kepada mereka untuk memasukkan Nabi Ibrahim ke dalam api dari jarak yang agak jauh. Caranya, Nabi Ibrahim diletakkan di suatu
tempat sehingga dapat dilentingkan, seperti anak panah yang dilentingkan dari busur. Dengan demikian, Nabi Ibrahim dapat masuk ke dalam api dengan mudah. Mereka pun melaksanakan rencana mereka, sementara Ong lain berkerumun dan menonton dari jauh.
Mereka menyangka Nabi Ibrahim pasti telah terbakar di dalam api yang berkobar. Tetapi, alangkah terkejutnya mereka ketika Nabi Ibrahim keluar dalam keadaan selamat. Allah telah menyelamatkan Nabi Ibrahim sehingga api yang dibuat untuk membakar beliau menjadi dingin dan tidak mencelakakan beliau sedikit pun. Sebagaimana difirmankan oleh Allah, "Hai api, jadilah dingin dan selamatkanlah Ibrahim." Inilah salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim.

MUKJIZAT NABI IBRAHIM
QS. Al-Baqarah: 260

Selang beberapa lama setelah mukjizat selamat dari api, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar diperlihatkan cara menghidupkan orang mati. Allah berfirman kepadanya, "Hai Ibrahim, apakah kamu belum percaya dengan kekuasaan-Ku?"
"Maha Suci Allah, permintaanku ini supaya aku bisa lebih dekat kepada-Mu, ya Allah, mudah-mudahan doa ini Engkau kabulkan," Nabi Ibrahim menjawab dengan takut-takut.
Allah tahu Nabi Ibrahim merupakan orang yang sabar dan patuh kepada perintah-Nya karena itu doa-doanya selalu dikabulkan. Allah pun meluluskan doa Ibrahim kali ini. "Baiklah, Aku akan mengabulkan permohonanmu."
Mendengar firman Allah tersebut, Nabi Ibrahim langsung bersujud untuk memperlihatkan rasa syukurnya. "Ibrahim, ambillah empat ekor burung. Potong-potonglah burung tersebut dan letakkan di atas tiap-tiap bukit," perintah
Allah.
Nabi Ibrahim 'pun segera melaksanakannya. Setelah selesai, Allah kembali berfirman, "Sekarang, panggillah burung-burung tersebut. Niscaya mereka akan terbang dan datang kepadamu."Nabi Ibrahim segera memanggil burung-burung tersebut. Tidak berapa lama tampak empat burung terbang dari atas bukit ke arahnya. Nabi Ibrahim langsung bersujud karena Allah telah memperlihatkan mukjizat kepadanya.

KELUARGA NABI 1BRAHIM
QS. Huud: 71-73

Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Sarah. Allah memerintahkan beliau untuk meninggalkan tempat tinggalnya di Haran. Dia pun membawa keluarganya melewati gurun menuju Kanaan. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di Mamre. Nabi Ibrahim dan Siti Sarah tinggal di sana selama bertahun-tahun. Hidup mereka sangatlah bahagia karena harta mereka bertambah banyak. Ternak-ternak mereka pun berkembang biak dengan pesat.
Setelah sekian lama menikah, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Padahal, mereka selalu berdoa agar dikarunia keturunan. Nabi Ibrahim kadang tampak murung. Allah pun melihat kerisauannya. Maka, Allah berjanji akan memberikan keturunan yang banyak kepada Nabi Ibrahim.
Waktu terus berganti, namun Siti Sarah tetap saja tidak mengandung. Harapan mereka mulai menipis. Suatu hari, Siti Sarah melihat pelayan perempuannya yang Ibernama Siti Hajar sedang mencuci pakaian. Ketika melihat Siti Hajar, muncul gagasan di kepalanya. Siti Sarah kemudian berkata kepada Nabi Ibrahim, "Suamiku,
engkau tahu Allah belum mengaruniai aku seorang anak. Ambillah Hajar menjadi
istrimu! Mungkin dengan begitu kita bisa memperoleh keturunan."
Nabi Ibrahim sangat terkejut mendengar usul tersebut. Namun, akhirnya beliau setuju. Maka, Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Dari Siti Hajar, Nabi Ibrahim dikaruniai putra yang diberi nama Ismail.

Setelah Siti Sarah mulai lanjut usia, Nabi Ibrahim mendapat wahyu bahwa Siti Sarah akan melahirkan seorang anak. Allah mengirim tiga orang malaikat utusannya untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepada
Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim menerima ketiga tamu tadi,sedangkan Siti Sarah diam di balik tirai. Kemudian, salah
satu tamu tersebut mengabarkan kepada Nabi Ibrahim bahwa Siti Sarah akan segera melahirkan seorang anak.  endengar hal tersebut Siti Sarah malah tertawa. Dia merasa sanksi atas apa yang didengarnya. Siti Sarah berkata, "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan seorang anak padahal aku sudah
berumur seperti ini? Suamiku pun demikian, sesungguhnya ini sesuatu yang sangat aneh."
Para malaikat berkata, "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Bukankah itu adalah rahmat Allah."
Singkat cerita, ketiga tamu tersebut berpamitan meninggalkan Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Tidak lama kemudian, Siti Sarah pun mengandung. Setiap hari, dia bahagia karena akan memperoleh seorang anak. Pada hari yang telah ditentukan, lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ishak, yang artinya tertawa.
Setelah Ishak lahir, Allah memberi wahyu kepada Nabi Ibrahim untuk rtiembawa Sill Hajar dan Ismail pergi. Namun, Nabi Ibrahim belum tahu tempat yang akan mereka tuju.
Dengan penuh rasa tawakal kepada Allah, Nabi Ibrahim bersama Siti Hajar dan Ismail pergi meninggalkan rumah. Mereka sama sekali tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Nabi Ibrahim hanya berserah diri kepada Allah dan yakin bahwa Allah akan memberi petunjuk.
Unta Nabi Ibrahim berjalan keluar-masuk hamparan luas padang pasir. Matahari membakar kulit mereka dan angin kencang menghambur-hamburkan debu pasir kian-kemari. Setelah berminggu-mingggu berada dalam perjalanan jauh yang melelahkan, mereka pun tiba di Mekah.
Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di Mekah dengan hanya dibekali makanan dan minuman seadanya. Sedangkan, di daerah itu tidak ada tumbuhan dan tidak ada air yang mengalir, yang terlihat hanya batu dan pasir kering.

TINGGAL DI MEKAH
QS. Ibrahim: 37, HR. Al-Bukhari (Hadits Al-Anbiya)


Hati Siti Hajar sangat sedih dan cemas ketika akan ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim. Tempat itu begitu sunyi senyap, yang ada hanya batu gunung dan pasir. Sedangkan, putranya masih sangat kecil. Siti Hajar menangis memohon belas kasihan Nabi Ibrahim. Ia tidak mau ditinggalkan di tempat yang kosong itu. Tidak ada seorang manusia pun di sana, tidak ada pohon atau binatang, padahal dia menanggung beban mengasuh anak yang masih menyusui. Nabi Ibrahim tidak tega meninggalkan anak dan istrinya. Akan tetapi, dia sadar bahwa yang dilakukannya itu merupakan kehendak Allah. Maka, beliau pun berkata, "Bertakwalah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya. Dialah yang memgrintahkan aku membawamu ke sini dan Dia-lah yang akan melindungi dan menyertaimu di tempat sunyi ini. Jika bukan karena perintah Allah, aku tidak akan meninggalkan kalian di sini. Percayalah, Allah tidak akan menelantarkan kalian."
Siti Hajar segera melepaskan genggamannya dari baju Nabi Ibrahim setelah mendengar ucapan itu. Siti Hajar akhirnya merupakan Nabi Ibrahim pergi menunggang untanya kembali ke Palestina. Siti Hajar menangis tersedu-sedu. Nabi Ibrahim pun tidak dapat menahan air matanya ketika meninggalkan Mekah menuju Palestina.
Nabi Ibrahim berdoa meminta Allah untuk melindungi anak dan istrinya di Mekah. Nabi Ibrahim berkata, "Ya Allah, aku telah menempatkan putraku dan anak-anak keturunannya di dekat rumah-Mu, di lembah yang sunyi dari segala tanaman dan manusia, agar mereka mendirikan salat dan beribadah kepada
Mu. Berilah mereka rezeki dan buah-buahan yang lezat."
Sepeninggal Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail berdiam di tempat yang terpencil dan sunyi itu. Dia hams menerima ketentuan yang telah ditakdirkan oleh Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan akan mendapat perlindungan dari Allah. Bekal makanan dan minumannya pun lambat lawn habis. Siti Hajar mulai merasakan eratnya beban hidup yang hams ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suami. Ia menjadi panik, bingung, dan cemas.

AIR ZAMZAM

Saat persediaan air sudah habis, Siti Hajar menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber air. Ia pun berlari ke sana-kemari untuk mendapatkan makanan. Ia mencoba berlari menuju bukit Shafa untuk mendapatkan sesuatu yang dapat menolongnya. Namun, hanya batu dan pasir yang ditemuinya. Kemudian, dari atas bukit Shafa dia melihat bayangan air yang mengalir di atas bukit Marwa. Dia pun berlari menuju bukit Marwa, walaupun ternyata yang dilihatnya hanya fatamorgana. Belum sempat ia beristirahat, ia seperti mendengar  suara yang memanggilnya sehingga ia berlari lagi ke bukit Shafa. Namun, tidak didapatinya sesuatu pun. Siti Hajar •    bolak-balik berlari hingga tujuh kali antara bukit Shafa dan bukit Marwa. Pada akhirnya, dia duduk termenung karena kelelahan dan hampir putus asa.
Di saat Siti Hajar dalam keadaan tidak berdaya, datanglah kepadanya Malaikat Jibril. Jibril bertanya kepadanya, "Siapa sebenarnya engkau ini?" "Aku adalah hamba sahaya Nabi Ibrahim," jawab Siti Hajar.
"Kepada siapa engkau dititipkan di sini?" tanya Jibril.
"Hanya kepada Allah," jawab Siti Hajar.
Lalu Jibril berkata, "Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih yang akan melindungimu dan mencukupi kebutuhan hidupmu."
Kemudian, Jibril mengajak Siti Hajar ke suatu tempat. Di tempat itu, Jibril menginjakkan kakinya sekuat-kuatnya di atas tanah.
Tidak lama, muncullah air yang memancar dan bekas telapak kaki Jibril. Atas kehendak Allah, air tersebut sangat jernih dan tidak pernah kering. Sumber mata air itu kemudian disebut air Zamzam.

Melihat air yang memancar, Siti Hajar merasa lega dan gembira. Segera dia membasahi bibir putranya. Munculnya air Zamzarn telah menarik perhatian burung-burung yang beterbangan mengelilingi daerah itu. Burung-burung itu pun menarik perhatian sekelompok bangsa Arab dari suku Jurhum yang sedang berkemah di sekitar daerah tersebut. Menurut pengalaman, di mana ada burung, di situ ada air. Maka, diutuslah oleh mereka beberapa orang untuk membuktikan kebenarannya. Para utusan itu pergi mengunjungi daerah tempat Siti Hajar berada. Kemudian, tak berapa lama mereka kembali membawa berita gembira kepada kaumnya tentang mata air Zamzam. Mereka juga menceritakan tentang adanya seorang wanita bernama Siti Hajar yang membawa putranya.
Kelompok Jurhum pun segera memindahkan perkemahan ke sekitar tempat mata air Zamzam. Kedatangan mereka disambut oleh Siti hajar dengan gembira. Sekarang, Siti Hajar memiliki tetangga¬tetangga yang akan menghilangkan rasa sepinya di tempat itu. Siti Hajar bersyukur kepada Allah karena telah menurunkan rahmat kepadanya.

PENYEMBELIHAN ISMAIL
QS. Ash-Shafaat: 100-111

Nabi Ibrahim pun tidak melupakan Siti Hajar dan putranya, Ismail. Setiap saat, Nabi Ibrahim pergi mengunjungi dan menjenguk Ismail di Mekah. Nabi Ibrahim bahagia melihat keadaan Siti Hajar dan Ismail yang dianugerahi banyak rahmat oleh Allah.
Tempat yang dulu tandus dan terpencil itu sekarang ramai dikunjungi para kabilah. Nabi Ibrahim juga ikut berperan serta mendidik Ismail sehingga menjadi anak yang beriman kepada Allah.
Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remaja, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa is harus menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim termenung karena itu merupakan perintah Allah yang amat berat.
Sebagai seorang ayah, dia tidak tega anaknya dijadikan kurban. Namun, sebagai seorang Nabi dia harus    .
mendahulukan cintanya kepada Allah daripada cintanya kepada keluarga dan
harta bendanya.
Allah mengetahui kebimbangan hati Nabi Ibrahim. Maka, Allah berfirman, "Aku lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Ibrahim mengamanatkan risalah-Nya." Nabi Ibrahim pun kemudian menguatkan niatnya untuk menyembelih putranya, Ismail.

Akhirnya, Nabi Ibrahim pergi ke Mekah untuk memenuhi kewajibannya kepada Allah. Sebelumnya, Nabi Ibrahim terlebih dahulu memberitahukan hal tersebut kepada Ismail. Ismail memang seorang anak saleh yang sangat taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Ketika sang ayah memberitahukan tentang perintah Allah yang harus dilaksanakan, Ismail berkata, "Wahai Ayah, laksanakanlah perintah Allah tersebut. Insya Allah, engkau akan menemuiku sebagai orang yang sabar dan patuh kepada perintah Allah. Aku hanya minta beberapa hal pada saat ayah akan melaksanakan perintah Allah. Pertama, Ayah hams mengikatku kuat-kuat agar aku tidak banyak bergerak. Kedua, lepaskan pakaianku agar darahku tidak mengenai pakaian dan menyebabkan berkurangnya pahalaku atau membuat ibu bersedih. Ketiga, tajamkanlah pisau ayah dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaanku. Keempat, sampaikanlah salamku kepada ibu, berikanlah pakaianku ini sebagai obat penghibur untuknya."
Nabi Ibrahim pun memeluk Ismail dan mencium kedua belah pipinya. Beliau lalu berkata, "Aku sangat bahagia memiliki seorang putra sepertimu, yang taat kepada Allah dan berbakti kepada orangtua."
Mereka pun pergi ke sebuah bukit. Di bukit itu, Ismail diikat tangan dan kakinya, kemudian dibaringkan di tanah. Nabi Ibrahim mengambil pisau yang sudah diasahnya dengan tajam. Nabi Ibrahim tidak tega melihat putranya berbaring tak berdaya. Matanya menitikkan air mata tanda duka cita. Akhirnya sambil memejamkan mata, pisau itu diletakkan di leher Ismail dan penyembelihan dilakukan.
Akan tetapi, secara ajaib, pisau yang sudah diasah itu tiba-tiba menjadi tumpul di leher Ismail. Inilah salah satu mukjizat dari Allah yang mengukuhkan bahwa perintah Allah itu merupakan suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Ismail. Allah hanya ingin menguji ketaatan mereka berdua.
Ismail yang merasakan pisau ayahnya tumpul di lehernya, lalu berkata, "Wahai Ayah, rupanya engkau tidak tega memotong leherku."
"Aku tidak tahu mengapa pisau ini tumpul. Aku akan mencobanya lagi dengan menelungkupkan badanmu," ucap Nabi Ibrahim sambil menelungkupkan tubuh Ismail. Beliau mencoba lagi menyembelih dari belakang. Namun, tetap saja gagal. Beliau bingung dan putus asa karena kegagalannya. Dia takut tidak sanggup melaksanakan perintah Allah.
Melihat hal tersebut, Allah berfirman, "Wahai Ibrahim, engkau telah lulus dalam ujian-Ku. Aku akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikan."
Ketika mendengarnya, Nabi Ibrahim menangis terharu bercampur bahagia. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih seekor domba sebagai ganti Ismail.
Sejak saat itu, Nabi Ibrahim melaksanakan ibadah kurban kepada Allah dengan menyembelih domba dan binatang ternak lainnya.
Ismail pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas dan rajin beribadah. la kemudian meminang seorang gadis dan Bani Jurhum dan hidup bahagia dalam pernikahannya. Sayangnya, Siti Hajar meninggal pada saat Ismail baru menikah.

PERNIKAHAN ISMAIL

Suatu hari, Nabi Ibrahim berkunjung ke rumah Nabi Ismail. Namun, saat itu Nabi Ismail sedang pergi dan hanya ada istrinya di rumah. Istri Ismail tidak mengenali Nabi Ibrahim sebagai mertuanya karena ia memang belum pernah bertemu. Mereka pun bercakap
cakap. Istri Nabi Ismail mengeluh tentang kehidupan rumah tangga mereka yang melarat. Nabi Ibrahim lalu berpamitan dan menitipkan pesan untuk Nabi Ismail agar ia mengganti pintu rumahnya.
Ketika Nabi Ismail pulang, istrinya memberitahu bahwa ada tamu yang datang ke rumah mereka. Istrinya menyampaikan pesan Nabi Ibrahim supaya pintu rumah mereka diganti. Nabi Ismail segera tahu bahwa tamu itu adalah ayahnya. Dia juga paham arti di balik pesan ayahnya itu, yaitu supaya dia menceraikan istrinya. Nabi Ismail pun mengikuti perintah ayahnya. Dia menceraikan istrinya dan selang beberapa lama, dia pun menikah lagi dengan seorang gadis dari Bani Jurhum.
Tak lama setelahnya, Nabi Ibrahim kembali berkunjung ke rumah Nabi Ismail. Kali ini, beliau juga tidak berhasil menemui Nabi Ismail. Nabi Ibrahim mengetuk rumah Nabi Ismail dan disambut oleh istri Ismail yang kedua. Istri Ismail menyambut kedatangan Nabi Ibrahim dengan ramah.
Nabi Ibrahim bertanya tentang keadaan Ismail dan keadaan rumah tangga mereka. Si istri mengatakan bahwa Nabi Ismail sedang berburu untuk mencari nafkah. Sedangkan keadaan rumah tangga mereka cukup baik, sejahtera, dan bahagia. Nabi Ibrahim senang dengan sambutan menantunya. Sebelum berpamitan, beliau menitipkan pesan untuk Nabi Ismail agar pintu rumahnya dipertahankan, tidak perlu diubah atau diganti karena masih kuat.
Sekembalinya Nabi Ismail dari berburu, istrinya bercerita tentang kedatangan Nabi Ibrahim, "Tadi datang seorang tua yang alim dan berwibawa. Dia datang bertamu dan menitipkan pesan untukmu."
"Apa isi pesannya?" tanya Nabi Ismail.
"la menyampaikan salam kepadamu dan berpesan agar pintu rumah ini jangan diubah atau diganti karena masih cukup baik dan kuat," ucap istrinya.
"Itu adalah ayahku dan isi pesannya berarti bahwa aku hams tetap bersamamu dan tidak boleh menceraikanmu."
Istrinya terkejut mendengar ucapan Nabi Ismail. Dia tidak menyangka bahwa laki-laki tua yang berkunjung ke rumahnya adalah mertuanya sendiri. Namun, dia bahagia karena sudah bertemu dengan mertuanya yang sangat bijaksana.

MEMBANGUN KABAH
QS. Al-Baqarah: 125-129
Dalam dua kali perjalanannya ke Mekah, Nabi Ibrahim tidak berusaha menemui Nabi Ismail secara pribadi. Dia merasa cukup dengan menemui istri Nabi Ismail untuk mengetahui keadaan beliau. Namun dalam perjalanannya kali ini, dia harus bertemu dengan Ismail. Allah telah memberinya tugas suci yang harus dikerjakan bersamanya. Singkat cerita, Nabi Ibrahim pun sampai ke Mekah, namun Nabi Ismail tidak ada di rumah. Nabi Ibrahim kemudian pergi mencarinya. Beliau masuk ke perkampungan suku¬suku dan perkemahan para perantau untuk mencari Nabi Ismail. Akhirnya, Nabi Ibrahim menemukan Ismail sedang duduk di bawah pohon rindang di dekat mata air Zamzam. Nabi Ismail sedang meraut anak panahnya.
Ketika melihat kedatangan Nabi Ibrahim, Ismail sangat gembira. Dia segera menjemput ayahnya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Mereka saling bertanya tentang keadaan masing-masing. Kemudian, Nabi Ibrahim menyampaikan maksud kedatangannya. Beliau mengatakan bahwa dia diperintahkan oleh Allah untuk membangun Kabah di atas sebuah bukit. Nabi Ismail pun dengan senang hati menyambut tugas tersebut. Ia siap membantu ayahnya melaksanakan perintah Allah.
Mereka kemudian segera membangun Kabah. Alat-alat dan bahan bangunan disiapkan, tanah digali bagi landasan bangunan tersebut. Setelah itu, tembok dibangun sampai tangan Nabi Ibrahim tidak dapat menjangkaunya. Dia memerintahkan Nabi Ismail untuk mencari batu besar yang akan dijadikan tumpuan kakinya. Tumpuan batu besar itu digunakan untuk membantunya mencapai puncak tembok yang sudah tinggi. Dengan pertolongan batu itu, Nabi Ibrahim dapat menjangkau puncak tembok. Saat Nabi Ibrahim menjejakkan kaki di batu itu, telapak kaki beliau berbekas pada bath sehingga batu tadi disebut maqam Ibrahim. Sekarang, tempat itu digunakan sebagai tempat salat para jamaah haji ketika menjalankan ibadah haji.
Setelah selesai membangun Kabah, Nabi Ibrahim berdoa, "Ya Allah, terimalah amalan kami dan jadikan kami berdua sebagai orang-orang yang tunduk dan patch kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan ternpat-tempat ibadah haji kami serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
Read More
misteraans

Kisah Nabi Shaleh AS dan Kaum Tsamud

KEKAYAAN KAUM TSAMUD
QS. Huud: 61, Al-Fajr: 9, Al-A'raaf: 74

Tsamud merupakan nama suku yang sangat kaya raya. Mereka mendiami suatu dataran bernama Al-Hijr yang terletak antara Hijaz dan Syam. Daerah tersebut pada zaman sebelumnya merupakan daerah jajahan suku 'Ad.
Kemakmuran dan kekayaan alam yang sebelumnya dimiliki dan dinikmati kaum 'Ad kemudian diwaiisi pada kaum Tsamud. Tanah-tanah yang subur memberikan hasil pertanian yang berlimpah. Binatang-binatang ternak berkembang biak dengan mudah. Kebun-kebun bunga yang indah tamr4 menyedapkan pandangan mata. Bangunan-bangunan rumah didirikan di atas tanah¬tanah datar dan dipahat dari gunung. Semua itu menjadikan mereka hidup tenteram, sejahtera, dan bahagia.
Kaum Tsamud tidak mengenal Allah. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah. Mereka rajin memberikan kurban kepada berhala-berhala tersebut. Mereka juga meminta perlindungan dari segala musibah kepada berhala-berhala yang tak berdaya itu. Padahal, mereka tahu bahwa berhala-berhala tadi hanyalah patung yang tak mampu memberi manfaat apa-apa. Namun, tetap saja pikiran mereka berada dalam kegelapan.
Harus ada seseorang yang menyadarkan kekeliruan mereka. Allah pun mengutus seorang Nabi untuk menteri petunjuk. Nabi itu akan memberikan penerangan dan tuntunan agar mereka keluar dari jalan yang sesat. Maka, Allah pun mengutus Nabi Saleh. Nabi Saleh merupakan bagian dari golongan kaum Tsamud. Dia berasal dari keluarga terpandang dan dihormati oleh kaumnya. Dia terkenal tangkas, cerdik, pandai, rendah hati, dan ramah dalam pergaulan.
Nabi Saleh memperkenalkan Sang Pencipta alam semesta ini kepada kaumnya. Allah-lah yang telah menciptakan tanah-tanah subur yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan mereka. Allah jugalah yang menciptakan binatang-binatang ternak yang dapat mereka manfaatkan. Allah-lah yang seharusnya mereka sembah, bukan patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu gunung.
Nabi Saleh menyerukan kepada kaumnya bahwa dia adalah utusan Allah. Beliau juga menerangkan bahwa apa yang beliau ajarkan merupakan amanat Allah yang harus disampaikan kepada rnereka. Nabi Saleh berharap agar kaumnya tidak lagi menyembah berhala dan akan beriman kepada Allah.
Apa yang disampaikan Nabi Saleh merupakan hal barn bagi kaum Tsamud. Mereka tidak menyangka seruan tersebut keluar dari mulut seseorang yang berasal dan kaumnya sendiri.

"Kamu menghendaki kami meninggalkan sesembahan kami dan nenek moyang kami? Padahal itu telah menjadi bagian hidup kami sejak dulu. Kami tidak akan pernah meninggalkan semua itu karena seruanmu. Kami tidak akan mengikuti ajakanmu itu. Kami tidak mempercayai ucapanmu dan kenabianmu."

Nabi Saleh tetap berusaha menyadarkan kaumnya yang keras kepala. Beliau ingin kaumnya beriman kepada Allah yang telah memberi karunia dan rezeki yang banyak kepada mereka. Nabi Saleh menceritakan kisah-kisah kaum yang mendapat peringatan dan Allah karena mereka berkeras hati tidak mau mendengar ajaran kebenaran. Nabi Saleh pun berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku berbicara jujur. Aku sama sekali tidak mengharapkan upah dari kalian."
"Lalu, apa tujuanmu mengatakan semua ini kepada kami?" tanya salah seorang dari kaumnya.
"Aku hanya menyampaikan amanat dari Allah. Aku hanya menyampaikan cinta kasih Allah kepada kalian karena aku sendiri merupakan bagian dari kalian."
Akhirnya dengan usaha keras, Nabi Saleh mendapatkan pengikut. Pengikut Nabi Saleh merupakan sekelompok kecil kaum Tsamud yang miskin. Walaupun begitu, hati mereka telah terbuka untuk menerima kebenaran dari Allah. Sementara itu, golongan orang-orang kaya tetap tidak mau beriman. Mereka tetap bersikap sombong dan keras kepala.
Kaum Nabi Sale1-1, berkata, "Wahai Saleh, kami kira kamu telah terkena sihir sehingga kamu menjadi gila. Kata-katamu tidak masuk akal dan tidak dapat kami pahami. Kamu mengaku bahwa kamu telah diutus Tuhanmu sebagai Nabi dan Rasul. Apa kelebihanmu dibandingkan dengan kami sehingga kamu dipilih menjadi Nabi. Padahal, masih banyak yang lebih pandai di antara kami yang bisa menjadi Nabi," ucap kaumnya yang lain.
"Kami tahu tujuanmu untuk mengejar kedudukan. Kamu ingin diangkat menjadi pemimpin kaum ini. Hentikan usahamu menyiarkan agama baru. Kami tidak akan mengikuti ajakanmu atau meninggalkan jalan yang telah kami tempuh selama ini," ucap kaumnya.
Nabi Saleh menjawab, "Aku telah berulang kali mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mengharapkan imbalan atas usahaku memberi tuntunan kepada kalian. Aku tidak mengharapkan upah. Yang kulakukan hanya atas perintah Allah dan aku mengharapkan balasan dari Allah. Aku tidak dapat menelantarkan tugas dan amanat dari Allah. Jangan sekali-sekali kalian berharap aku akan melanggar perintah Allah dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya untuk menyembah nenek moyang kalian."
Walaupun kaumnya tidak mau mendengarkan, Nabi Saleh tetap giat melakukan dakwah terhadap kalangan rakyat kebanyakan. Hal ini membuat para pembesar kaum Tsamud marah. Mereka menantang Nabi Saleh untuk membuktikan mukjizat dalam bentuk Benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

UNTA DARI BATU GUNUNG
QS. Huud: 64-68

Nabi Saleh sadar bahwa kaumnya memberi tantangan kepadanya untuk menghilangkan pengaruhnya di hadapan para pengikutnya. Bila dia gagal memenuhi tantangan itu, para pembesar kaumnya akan menganggapnya sebagai
pembohong. Namun sebaliknya, bila Nabi Saleh bisa memenuhi tantangan mereka, dia akan meminta kaumnya untuk percaya kepadanya dan meninggalkan agama mereka. Nabi Saleh akan meminta mereka menyembah Allah.
Pada hari yang sudah disepakati, Nabi Saleh berdiri di hadapan kaum Tsamud. Para pemuka kaum Tsamud diam memperhatikan tingkah laku Nabi Saleh. Mereka berharap Nabi Saleh gagal memenuhi tantangan mereka.

"Saleh, cepat tampilkan tanda kenabianmu!" seru seorang pemuka kaum Tsamud. "Apa yang kalian inginkan?" tanya Nabi Saleh.
"Kami ingin sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami menghendaki tanda kebesaran dari Allah atas kenabianmu."
"Apa yang kalian inginkan?" Nabi Saleh bertanya lagi dengan nada sabar.
"Ini gunung yang terdekat. Mengapa gunung ini tidak bisa melahirkan unta? Mengapa kamu tidak berdoa kepada Allah agar membelah batu gunung ini dan mengeluarkan seekor unta dan dalamnya?"
"Apakah jika kulakuan hal itu kalian akan percaya bahwa aku adalah utusan Allah?" "Ya, saat ini pula kami akan membenarkanmu."
"Kalian meminta sesuatu yang luar biasa," ucap Nabi Saleh.
"Akuilah bila kamu memang tidak mampu," mereka mendesak.
"Kalian ini berlaku seperti anak kecil yang meminta mainan yang menyilaukan," ucap Nabi Saleh lagi.
"Hai Saleh, bila kamu mengaku sebagai utusan Allah, maka adalah hak kami untuk memintamu memberikan bukti atas pengakuanmu."
"Aku hanya kiawatir jika kuturuti kemauan kalian, lalu kalian akan mengingkarinya. Allah akan menurunkan hukuman bila kalian berdusta."
"Kami tidak mungkin berlaku demikian. Kami berjanji kepadamu kami akan mempercayai tanda kenabianmu dan kami tidak akan ingkar janji."
"Kalian berjanji?" Nabi Saleh bertanya sekali lagi.
"Kami semua berjanji."
Nabi Saleh diam dan memejamkan mata. Tangailnya terangkat memohon mukjizat dan Allah. Dengan sepenuh hati, Nabi Saleh berdoa agar mukjizat itu dapat membuktikan kebenaran ucapannya. Beliau memohon agar Allah menciptakan seekor unta betina dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi gunung yang mereka tunjuk.
Tak lama kemudian, keluarlah seekor unta betina dari dalam batu cadas. Kaum Tsamud kaget melihat apa yang mereka minta sudah ada di depan mata. Mereka mengangguk-anggukkan kepala dan mengakui bahwa Saleh adalah utusan Allah. Mereka berjanji akan menerima ajakan beliau untuk menyembah Allah.
Janganlah kalian sakiti unta ini. Bila kalian melanggar, Allah dapat menurunkan hukuman¬Nya," ujar Nabi Saleh memperingatkan.
Mereka berjanji tidak akan berbuat buruk terhadap unta itu. Kaum Tsamud pun berlalu dan Nabi Saleh pun pergi.

Ketika orang-orang bangun pada keesokan harinya, mereka Iangsung mengelilingi si unta. Si unta betina menjadi pusat perhatian Kaum Tsamud. Mereka kagum dengan unta yang keluar dari batu gunung itu.
Unta betina tadi berkeliaran di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendapat gangguan. Unta itu pun minum dengan bebas di tempat minum unta yang telah disediakan.

SUSU UNTA BETINA
QS. Asy-Syu'araa': 155-159

pada hari ketiga kehadirannya, unta betina itu melahirkan. Si unta pun mulai menyusui anaknya. Ternyata Kaum Tsamud juga ingin mencicipi susunya. Mereka mendatangi Nabi Saleh dan menceritakan tentang anak unta yang dilahirkan dan susu yang keluar
dari si unta.
"Kami juga ingin menikmati susu unta betina itu. Mungkin air susunya dapat memberi berkah kepada kami."
Nabi Saleh mengatakan bahwa mereka boleh meminum susu unta betina itu, namun tetap ada peraturannya. "Kalian sediakan air segar agar unta itu bisa minum, bare kalian bisa meminum susunya. Pada hari kedua, kalian minum air biasa dan biarkan unta itu menyusui anaknya. Begitu seterusnya."
Mereka menyepakati ketentuan dari Nabi Saleh. Seterusnya, unta betina itu memenuhi kebutuhan susu bagi kaum Tsamud. Namun, ternyata para pemuka kaum Tsamud tetap tidak mau men§`akui Vbenaran Nabi Saleh. Mereka kesal karena sekarang jumlah pengikut Nabi Saleh kian bertambah. Mereka mencoba menghasut para pemilik ternak dan pemilik ladang supaya membenci unta Nabi Saleh yang telah memakan rumput mereka.


KAUM TSAMUD MEMBUNUH UNTA
para pemuka kaum Tsamud mengadakan persekongkolan. Mereka mengatur rencana untuk membunuh unta Nabi Saleh.
Namun, di hati mereka tetap terbersit rasa takut akan
datangnya hukuman dari Allah. Di tengah keraguan tersebut, seorang wanita bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerahkan
dirinya kepada siapa saja yang berhasil membunuh unta Nabi Saleh. Ada juga seorang wanita yang menawarkan putri-putrinya yang cantik bagi siapa pun yang bisa membunuh unta itu.
Dua jenis hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu, ditambah hasutan dari pemuka kaum Tsamud membuat dua orang laki-laki bernama Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif bersedia membunuh unta Nabi Saleh. Mereka segera bersiap-siap akan membunuh unta itu untuk mendapatkan hadiah yang telah dijanjikan.

Kedua laki-laki itu dibantu oleh tujuh pria. Mereka bersembunyi di tempat yang biasa dilalui si unta ketika akan pergi ke tempat minumnya. Mereka menunggu dengan perasaan gelisah, takut rencana mereka akan gagal. Tak lama, suara langkah si unta mulai terdengar pelan. Ketika unta itu lewat di hadapan mereka, Mushadda' segera mengacungkan panahnya. Anak panah meluncur dari busurnya dan mengenai betis si unta. Kemudian Gudar segera keluar dan menikamkan pedangnya di perut unta tersebut.
Setelah itu, mereka menyembelih unta tadi.
Dengan bangganya, kesembilan orang itu lalu pergi ke
kota untuk menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh.
mereka mendapat sambutan meriah dan teriakan kegembiraan dari orang¬orang yang tidak beriman.
Mereka berkata kepada Nabi Saleh, "Wahai Saleh, untamu telah mati terbunuh. Coba datangkan ancaman yang telah kamu ucapkan,
jika kamu termasuk orang yang jujur." Nabi Saleh menjawab,
"Aku telah memperingatkan kalian bahwa Allah akan
menurunkan hukuman-Nya atas kalian jika kalian mengganggu
unta itu. Peringatan yang telah Allah janjikan akan datang."
Nabi Saleh memberi waktu tiga hari kepada kaumnya
untuk bertobat. Namun, mereka malah mengejek Nabi
Saleh dan menantang datangnya siksa Allah.

Nabi Saleh kembali memberi peringatan dengan memberitahu kepada kaumnya tentang hukuman yang dapat menimpa mereka.
"Wahai kaumku, ingatlah perkataanku! Bila kalian tidak bertobat kepada Allah, maka siksa Allah akan datang selama empat hari. Pada hari pertama, saat kalian bangun dan tidur, wajah kalian akan berubah menjadi kuning dan berubah menjadi merah. Hari kedua, wajah kalian akan menjadi hitam. Hari ketiga dan keempat, azab akan datang dari Allah."
Mendengar peringatan tersebut, kesembilan orang yang telah membunuh unta Nabi Saleh segera mengadakan pertemuan penting.
"Bagaimana ini? Saleh kembali mengancam kita," ucap salah seorang dari mereka. "Kita harus membunuh Saleh pada saat dia lengah, yaitu pada malam hari." "Kita harus bersumpah melakukan ini agar kita terbebas dari Saleh."
"Baiklah kita semua setuju."
"Kita juga hams merahasiakan ini agar keluarga Saleh tidak menuntut kita." Akhirnya, mereka semua bersumpah akan membunuh Nabi Saleh secara diam-diam.
Pada malam yang telah disepakati, mereka mengendap-endap datartg ke rumah Nabi Saleh. Ketika mereka akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar di atas kepala mereka.
"BRAAAKK ...." Batu besar itu langsung menimpa mereka. Mereka bahkan tidak sempat meminta tolong.
Keesokan harinya, Nabi Saleh dengan para pengikutnya segera meninggalkan Hijr. Mereka menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestina.
Kaum Tsamud yang ditinggalkan binasa. Allah mendatangkan halilintar dan gempa bumi yang dahsyat bagi mereka.
Read More
misteraans

Kisah Nabi Hud dan kaum 'Ad yang sombong

KAUM 'AD YANG SOMBONG
QS. Asy-Syu'araa': 123-140, Al-Mu'minuun: 32-41

Kaum Nabi Nuh yang selamat mulai memenuhi bumi. Dari keturunan mereka hiduplah kaum yang bertempat tinggal di sebelah utara Hadralmaut dari negeri Yaman, yang disebut kaum `Ad. Allah mengutus kepada kaum 'Ad seorang Nabi bernama Hud yang merupakan keturunan Sam bin Nuh, cucu Nabi Nuh.
Kaum 'Ad merupakan kaum yang kuat. Sayangnya, mereka sangat suka berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka menyembah patung-patung. NI ereka juga suka merampok harta benda orang lain dan menyiksa tawanan perang. Di sisi lain, mereka sangat pandai membuat bangunan¬bangunan yang kuat di tempat tinggi.

Nabi Hud berseru kepada kaumnya, "Hai kaumku, sembahlah Allah karena tidak ada Tuhan selain Allah. Aku tidak minta upah apa¬apa dari kalian, dan tidak ada yang memberi upah kepadaku melain¬kan Allah yang sudah menjadikanku. Minta ampunlah kalian kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya," ucap Nabi Hud.
Namun, kaum 'Ad sangat sombong. Me¬reka tidak mau men¬dengarkan seruan Nabi Hud. Mereka malah berkata, "Sesungguhnya kami melihat engkau dalam kebodohan dan dusta."
Nabi Hud men¬jawab, "Hai kaumku, aku bukan orang bodoh. Namun, aku seorang Rasul utusan Allah."
pembesar kaum 'Ad menjawab, "Kamu tidak pantas datang kepada kami dan menyuruh kami menambah Allah serta meninggalkan berhala-berhala yang sudah lama kami sembah. Nabi Hud memberi peringatan kepada mereka bahwa Allah dapat mendatangkan hukuman bila    mereka tida mau bertobat. Beliau memberi contoh tentang kejadian yang menimpa kaum Nabi Nuh yang membangkang. Banjir besar diturunkan kepada mereka sehingga dunia menjadi lautan dan    ng yang durhaka kepada Allah musnah.
Nabi mengingatkan kaum 'Ad bahwa bila mereka berperilaku sama dengan kaum Nabi Nuh,Allah juga akan murka. Namun, kaum 'Ad tidak percaya dengan ucapan beliau. Datangkan saja apa yang engkau janjikan kepada kami, bila engkau memang orang yang benar." Kaum 'Ad menantang Nabi Hud.

PERINGATAN UNTUK KAUM 'AD
QS. Asy-Syu'araa': 123-140, Al-Mu'minuun: 32-41

Nabi Hud berkata, "Sesungguhnya, peringatan dari Allah akan datang, baik kalian percaya ataupun tidak." Akhirnya, Allah mendatangkan angin kencang selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus bagi kaum 'Ad yang durhaka. Angin kencang itu merubuhkan pohon-pohon dan bangunan-bangunan kaum 'Ad yang kokoh. Allah telah menurunkan azab-Nya dan memusnahkan kaum 'Ad. Sementara itu. orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah dari malapetaka hebat tersebut.



Read More
misteraans

Kisah Nabi Nuh AS

ilustrasi perahu nabi Nuh (youtube.com)
KAUM PENYEMBAH BERHALA
QS. Asy-Syu'araa': 105-122, Nuh: 1-28, Al-Ankabut: 14-15, Huud: 25-48

Berabad-abad kemudian, manusia semakin bertambah banyak. Sekelompok manusia mulai menguasai alam semesta tanpa
mengingat Allah. Padahal, Allah yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini.
Manusia mulai lupa dengan ajaran yang dibawa oleh para Nabi. Mereka berbuat syirik menyekutukan Allah dan lalai dari menyembah Allah.
Allah pun mengutus Nabi Nuh untuk menyerukan kebenaran. Nabi Nuh mengajak agar umatnya kembali kepada Allah dan meninggalkan berhala-berhala yang mereka sembah. Namun, umatnya ternyata begitu ingkar. Mereka lebih suka menyembah patung yang tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka percaya, patung¬patung itu memiliki kekuatan yang dapat menolong mereka dalam kesulitan.
Kaum Nabi Nuh menamai patung-patung berhala mereka Wadd, Suwa' , Ya'uq, Yaguts, dan Nasr. Nabi Nuh berusaha keras mengajak kaumnya untuk meninggalkan perbuatan syirik dan kembali menyembah Allah. Nabi Nuh juga
berusaha rnengajarkan mereka untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Namun, kaumnya
tetap menolak, bahkan berbalik mengejek Nabi Nuh.   

Nabi Nuh mengajak umatnya untuk menyadari kekuasaan Allah dengan memperhatikan ciptaan¬ciptaan-Nya. Lihat saja alam semesta ini dengan langit berikut matahari, bulan, dan bintang-bintang yang menghiasinya. Belum lagi bumi dengan segala kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, serta pergantian siang menjadi malam dan sebaliknya. Semuanya merupakan bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau berpikir.
Nabi Nuh juga memberitakan kepada kaumnya bahwa manusia akan menerima ganjaran atas seniva amalannya di dunia. Orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan pahala dan surga sementara orang yang berbuat kejahatan akan mendapat murka dan neraka. Dengan kesabaran yang tinggi, Nabi Nuh tidak bosan-bosan menyampaikan kebenaran walaupun banyak di antara kaumnya yang membangkang. Kadang kala, Nabi Nuh berkata dengan penuh kelembutan agar orang-orang mau mengikuti ajakannya. Sekali waktu, beliau juga menyampaikan peringatan dengan kata-kata yang tajam.
Walaupun Nabi Nuh telah berusaha keras, namun sangat sedikit orang yang mau mengikuti ajarannya. Sebagian besar kaumnya yang kembali ke jalan Allah adalah orang¬orang miskin. Sedangkan, orang-orang kaya dan para pembesar tidak mempercayai Nabi Nuh.

Mereka yang ingkar berkata kepada Nabi Nuh, "Bukankah engkau hanya manusia biasa yang sama seperti kami? Jika Allah mengirim seorang utusan, pastilah dia seorang malaikat. Kamu hanya pantas diikuti oleh orang-orang yang tidak berguna."
"Kalau memang agama yang kamu bawa itu benar, kami pasti akan menjadi pengikutmu. Kami lebih pandai dibandingkan denganmu. Aku yakin engkau seorang pendusta," ucap pembesar yang lain.
Nabi Nuh pun menjawab, "Apakah kalian mengira aku dapat memaksa kalian mengikuti ajaranku? Aku hanya manusia biasa yang diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan petunjuk¬Nya. Jika kalian tidak mau beriman kepada Allah, Allah yang akan memberi peringatan kepada kalian."
"Wahai Nuh, jika kamu ingin kami mengikutimu, usirlah para pengikutmu yang miskin dan hina. Kami tidak mau 4isamakan dengan mereka," ucap salah satu pembesar.
Nabi Nuh menolak permintaan itu, "Agama ini untuk semua orang. Yang akan mendapat ganjaran dari Allah adalah orang-orang yang beriman dengan hati ikhlas. Wahai kaumku, sesungguhnya aku pemberi peringatan dari Allah. Sembahlah Allah, bertakwalah dan taatlah kepada-Nya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan menangguhkanmu sampai waktu yang ditentukan."

Nabi Nuh terus-menerus berseru kepada kaumnya selama 950 tahun. Namun, hanya sedikit orang yang mau mengikuti ajarannya. Walaupun begitu, Nabi Nuh tetap sabar. Ia yakin Allah akan selalu menolongnya. Ia tetap berharap suatu saat nanti kaumnya akan bertobat dan menyembah Allah. Namun, harapan-nya itu kian tipis melihat • kaumnya yang terus¬menerus menentang ajarannya. Akhirnya, Nabi Nuh merasa sedih dan menyerahkan perkara tersebut kepada Allah, "Ya Allah, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, namun seruanku justru membuat mereka lari dari kebenaran. Sesungguhnya, setiap kaliaku menyeru pada mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan baju mereka ke muka. Mereka tetap mengingkari dan menyombongkan dirt " ucap Nabi Nuh.
Allah pun berfirman, "Sesungguhnya tidak akan ada seorang dari kaummu yang beriman kecuali mereka yang telah beriman lebih dulu, maka janganlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka perbuat."
Setelah rhendengarkan firman Allah tersebut, kegundahan Nabi Nuh pun hilang. Nabi Nuh memohon kepada Allah agar memberikan suatu keputusan antara dirinya dan kaumnya yang sesat, serta menyelamatkan pengikut-pengikutnya yang mukmin.
"Ya Allah, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu tinggal di muka bumi. Mereka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu yang beriman. Jika Engkau biarkan mereka tinggal, mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat seperti mereka."
Allah mengabulkan doa Nabi Nuh. Allah berkehendak untuk menurunkan peringatan bagi kaum Nabi Nuh yang tetap membangkang. Diperintahkanlah Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal. Nabi Nuh pun melaksanakan perintah Allah itu dengan penuh ketaatan.

MEMBUAT KAPAL
QS. Al-Mu'minuun: 23-30

Setelah menerima perintah dari Allah untuk membuat kapal yang besar, Nabi Nuh segera mengumpulkan para pengikutnya. Beliau memimpin mereka agar mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kapal tadi. Untuk tempat membuatnya,
Nabi Nuh mencari lokasi di luar kota. Beliau tidak ingin pekerjaannya terganggu sehingga dicarilah tempat yang jauh dari keramaian. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, mulailah mereka membuat kapal yang kokoh.
Nabi Nuh dan para pengikutnya bekerja dengan keras. Siang dan malam mereka bahu¬membahu. Teriknya sinar matahari yang membakar kulit tidak mereka pedulikan. Dinginnya angin malam padang pasir tidak membuat mereka gentar. Semangat yang kuat terpancar dari diri Nabi Nuh dan par1 pengikutnya.
Walaupun Nabi Nuh dan pengikutnya bekerja di tempat terpencil, namun tetap saja kaumnya yang keras kepala itu mengetahui kegiatan Nabi Nuh. Mereka datang untuk mengejek dan mengolok-olok Nabi Nuh dan kawan-kawan.
"Wahai, Nuh! Bukankah menurut pengakuanmu, engkau seorang Nabi dan Rasul? Kenapa sekarang engkau menjadi tukang kayu dan membuat perahu?"
Nabi Nuh sama sekali tidak mengindahkan ejekan mereka. Melihat hal itu, kaumnya semakin bersemangat mengolok-olok.
"Kamu pasti sudah gila membuat perahu di tempat yang jauh dari air," ucap salah seorang kaumnya yang sesat.
"Hahaha... aku tahu perahu yang kamu buat itu pasti untuk ditarik kerbau," ucap salah seorang yang lain.
Nabi Nuh tidak peduli dengan ejekan mereka. Beliau hanya berkata, "Tunggu saja saatnya, jika kalian sekarang mengejek dan mengolok-olok kami, maka akan tiba kesempatan kelak bagi kami untuk menunjukkan kebenaran. Kalian pun akan tahu alasan aku membuat kapal ini. Tunggulah hingga Allah memberi ketentuan bagi kalian."
Setelah pekerjaan membuat kapal selesai, Nabi Nuh mendapat wahyu dari Allah, "Bersiap¬siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda dari-Ku, segeralah angkut para pengikutmu ke dalam kapal beserta orang-orang yang telah beriman dari kaummu dan kerabatmu. Bawalah serta binatang di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan. Berlayarlah kalian dengan seizin-Ku."

Setelah Allah berfirman, Nabi Nuh segera mengumpulkan para pengikutnya dan membawa berbagai jenis binatang untuk diangkut ke dalam kapal.Saat itu, langit tampak cerah. Para pengikut Nabi Nuh masuk ke dalam kapal diikuti dengan ratusan binatang. Kaumnya yang durhaka menertawakan Nabi Nuh dan para pengikutnya. Mereka tetap keras kepala dan sama sekali tak percaya dengan peringatan Nabi Nuh.

Di dalam kapal,Nabi Nuh dan para pengikutnya sudah mempersiapkan bekalyang banyak. Mereka tidak tahu kapan banjir akan datang,mereka juga tidak tahu kapan air akan surut.Setelah mereka aman di dalam kapal, hujan deras
pun mulai turun.

Hujan turun selama empat puluh hari empat puluh malam. Air yang deras tercurah dari langit dan memancar dari bumi. Dalam sekejap, semua daratan tertutup air. Sungai-sungai meluap membanjiri daerah pemukiman dan pertanian. Badai begitu menakutkan. Langit menghitam, Yang ada hanya kegelapan. Air laut yang ganas naik semakin tinggi menenggelamkan puncak-puncak gunung. Semua makhluk hidup yang ada di luar perahu Nabi Nuh tenggelam ditelan banjir.
Dengan kehendak Allah, berlayarlah perahu Nabi Nuh menyusuri lautan menentang angin dan badai. Tampak orang-orang kafir berlarian menyelamatkan diri dari banjir. Nabi Nuh naik ke atas geladak kapal untuk memperhatikan cuaca dan melihat keadaan di sekitarnya. Saat itu, dia melihat putra sulungnya yang bernama Kan'aan sedang berusaha menyelamatkan din dari amukan banjir. Badannya timbul tenggelam di atas permukaan air.
Saat itu, muncul rasa kasih sayangnya sebagai seorang ayah melihat putranya dalam bahaya. Nabi Nuh berteriak memanggil Kan'aan, "Wahai anakku, kemari dan bergabunglah denganku dan keluargamu. Bertobatlah dan berimanlah engkau kepada. Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut. Janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir."
Namun, Kan'aan tidak mau mengikuti ajakan Nabi Nuh. Dia yakin, dia akan selamat tanpa bantuan ayahnya.
"Percayalah, tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau adalah naik ke kapal ini, Nak. Saat ini, tidak akan ada yang dapat menyelamatkan dui dari siksa Allah, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya!" sera Nabi Nuh.
Begitu Nabi Nuh selesai mengucapkan kata-katanya, tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas. Tubuhnya menghilang dari pandangan. Badannya tenggelam ke dasar lautan mengikuti kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka kepada Allah.
Nabi Nuh sedih melihat putranya meninggal dalam kekafiran. Beliau pun mengadu kepada Allah, "Ya Allah, sesungguhnya putraku itu adalah darah dagingku. Dia juga bagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar dan Engkaulah Hakim yang Maha Berkuasa."
Kemudian Allah berfirman, "Wahai Nuh, sesungguhnya putramu itu tidaklah termasuk dalam keluargamu karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu, menolak dakwahmu, dan lebih memilih mengikuti jejak orang-orang kafir di antara kaummu. Sesungguhnya, hanya mereka yang telah menerima dakwahmu, mengikuti jalanmu, dan beriman kepada-Ku yang dapat engkau masukkan ke dalam golongan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungan dan keselamatan. Adapun orang-orang yang yang telah mengingkarimu, mendustakan dakwahmu, dan tetap mengikuti hawa nafsunya, pastilah ia akan mendapat hukuman yang telah Aku tentukan. Janganlah engkau sekali-kali menyatakan tentang sesuatu yang engkau belum mengetahuinya.

Nabi Nuh baru sadar setelah mendapat teguran dari Allah. Kasih sayangnya kepada putranya sejenak telah membuatnya lupa pada janji dan ancaman Allah terhadap orang yang sesat, termasuk putranya. Cinta kasih yang sesungguhnya hanyalah kepada Allah. Cinta kepada Allah harus melebihi cinta kepada apa dan siapa pun.
Nabi Nuh menyesali kelalaiannya. Beliau memohon ampunan kepada Allah seraya berseru, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan. Ya Allah, ampunilah kelalaian dan kekhilafanku sampai-sampai aku menanyakan sesuatu yang tidak aku ketahui. Ya Allah, bila Engkau tidak memberi ampunan serta menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku menjadi orang yang rugi."
Singkat cerita, setelah air bah mencapai puncak keganasannya dan semua kaum Nuh yang zalim telah binasa sesuai dengan kehendak Allah, maka surutlah air lautan diserap bumi. Ken-iudian, kapal Nabi Nuh berlabuh di Bukit Juud.
Allah lalu menyuruh Nabi Nuh dan para pengikutnya untuk turun di sana. Allah berfirman, "Hai Nuh, turunlah derdan selamat. Kalian orang-orang yang beriman kepada-Ku akan dilimpahi berkah-Ku." Nabi Nuh dan pengikutnya mulai menjalani kehidupan baru yang diberkahi Allah. Sedikit demi sedikit, manusia kembali memenuhi bumi.
Read More